Memahami 8 Tren Cybersecurity yang Akan Terbentuk di Indonesia dalam Tahun 2026
- Khaira Ulfia Sabil
- 5 days ago
- 4 min read
Transformasi digital di Indonesia semakin berkembang secara pesat. Adopsi cloud, pemanfaatan AI, digitalisasi layanan publik, hingga pertumbuhan ekosistem bisnis digital mendorong efisiensi dan inovasi di berbagai sektor. Namun di balik percepatan tersebut, muncul dinamika baru dalam lanskap cybersecurity yang tidak bisa diabaikan.
Memasuki tahun 2026, cyber attack di Indonesia tidak hanya meningkat dari sisi jumlah, tetapi juga dari sisi kompleksitas dan dampaknya terhadap operasional bisnis. Keamanan siber kini tidak lagi menjadi isu teknis saja, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan bisnis. Untuk memahami arah perubahan tersebut, berikut delapan tren keamanan siber yang diperkirakan akan semakin terbentuk di Indonesia pada tahun 2026.
1. Pergeseran Fokus dari Pencegahan ke Ketahanan Cyber
Selama bertahun-tahun, strategi cybersecurity banyak berfokus pada pencegahan serangan. Firewall, antivirus dan sistem proteksi perimeter menjadi garda terdepan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal. Serangan dengan teknik baru, eksploitasi celah yang belum dikenal, serta human error membuat insiden siber tetap mungkin terjadi.
Di tahun 2026, perusahaan di Indonesia mulai menggeser pendekatan mereka ke konsep cyber resilience atau cybersecurity. Fokusnya bukan lagi hanya “bagaimana mencegah serangan”, tetapi “bagaimana tetap bertahan dan pulih ketika serangan terjadi”. Ketahanan siber mencakup kesiapan organisasi dalam merespons insiden, meminimalkan dampak gangguan, serta mengembalikan layanan ke kondisi normal dalam waktu sesingkat mungkin.
Tren ini mendorong perusahaan untuk menyusun skenario insiden secara lebih realistis, memperkuat disaster recovery plan, serta menguji business continuity plan secara berkala. Cybersecurity menjadi bagian dari kesiapan bisnis menghadapi ketidakpastian.
2. Cyber attack yang Semakin Menyasar Operasional Bisnis
Jika sebelumnya cyber attack banyak yang menargetkan pada pencurian data, di tahun 2026 ini fokus dari serangan siber mulai bergeser ke gangguan operasional. Sistem produksi, layanan digital, hingga platform transaksi menjadi sasaran utama karena dampaknya langsung terasa pada bisnis.
Bagi perusahaan di Indonesia, kondisi ini menjadikan cybersecurity sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas layanan dan kepercayaan pelanggan.
3. Kompleksitas Keamanan di Lingkungan Cloud dan Hybrid
Adopsi cloud dan hybrid infrastructure semakin masif seiring kebutuhan bisnis akan fleksibilitas dan skalabilitas. Banyak perusahaan mengombinasikan data center on-premise dengan layanan cloud publik dan private cloud untuk mendukung operasional mereka.
Namun, kompleksitas infrastruktur ini juga membawa tantangan keamanan baru. Setiap platform memiliki konfigurasi, kontrol akses dan model keamanan yang berbeda. Kesalahan konfigurasi kecil saja dapat membuka celah besar yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan cyber.
Di tahun 2026, perusahaan di Indonesia mulai menyadari bahwa keamanan cloud tidak cukup hanya mengandalkan fitur bawaan penyedia layanan. Dibutuhkan visibilitas menyeluruh terhadap seluruh lingkungan IT, termasuk beban kerja, traffic antar sistem, serta integrasi lintas platform. Pengelolaan keamanan cloud menjadi disiplin tersendiri yang memerlukan pendekatan terpusat dan konsisten.
4. Peningkatan Risiko dari Akses Internal dan Identitas Digital
Perubahan pola kerja, termasuk kerja jarak jauh dan kolaborasi lintas sistem, membuat identitas digital menjadi salah satu titik paling kritis dalam cybersecurity. Setiap karyawan, mitra dan sistem memiliki akses ke berbagai aplikasi dan data yang saling terhubung.
Banyak insiden keamanan terjadi bukan karena peretasan eksternal yang kompleks, tetapi karena penyalahgunaan akses yang sah, kredensial yang bocor, atau hak akses yang tidak dikelola dengan baik. Di tahun 2026, risiko dari sisi internal menjadi perhatian utama perusahaan di Indonesia.
Pengelolaan identitas dan hak akses tidak lagi bersifat administratif semata. Perusahaan dituntut untuk memastikan prinsip least privilege diterapkan secara konsisten, setiap aktivitas dapat dipantau, dan anomali akses dapat terdeteksi lebih awal sebelum menimbulkan dampak besar.
5. Peran Data sebagai Target Utama Cyber Attack
Data telah menjadi aset bisnis yang sangat bernilai. Pemanfaatan data untuk analitik, kecerdasan buatan, personalisasi layanan dan pengambilan keputusan strategis membuat data semakin krusial bagi perusahaan.
Di sisi lain, kondisi ini menjadikan data sebagai target utama cyber attack. Kebocoran data tidak hanya berdampak pada kerugian finansial, tetapi juga berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum dan merusak kepercayaan pelanggan.
Pada tahun 2026, tren cybersecurity di Indonesia menunjukkan bahwa perlindungan data harus dilakukan secara menyeluruh. Perusahaan tidak hanya fokus pada pengamanan sistem, tetapi juga memastikan data terlindungi sepanjang siklus hidupnya, mulai dari penyimpanan, pemrosesan, hingga distribusi dan penggunaan data oleh pihak internal maupun eksternal.
6. Kebutuhan Monitoring dan Visibilitas Sistem secara Real-Time
Cyber attack berkembang dengan sangat cepat dan sering kali tidak memberikan tanda-tanda yang jelas di awal. Mengandalkan pemantauan manual atau laporan berkala menjadi semakin tidak relevan di tahun 2026.
Perusahaan di Indonesia membutuhkan visibilitas real-time terhadap seluruh sistem dan infrastruktur mereka. Monitoring yang terintegrasi memungkinkan tim untuk memahami kondisi sistem secara menyeluruh, mendeteksi anomali lebih cepat dan mengambil tindakan sebelum insiden berkembang menjadi gangguan besar.
Tren ini mendorong adopsi solusi monitoring dan observability yang mampu menggabungkan data dari berbagai sumber, sehingga memberikan gambaran utuh tentang kesehatan sistem dan potensi risiko keamanan.
7. Cybersecurity sebagai Tanggung Jawab Manajemen
Cybersecurity tidak lagi menjadi tanggung jawab pada tim IT. Di tahun 2026, isu keamanan semakin sering dibahas di level manajemen dan direksi karena dampaknya sangat nyata pada bisnis dan reputasi perusahaan.
Tren ini mendorong kolaborasi lintas divisi antara tim teknis, operasional dan manajemen dalam menyusun kebijakan dan strategi cybersecurity yang lebih komprehensif.
8. Integrasi Cybersecurity dengan Strategi Bisnis Jangka Panjang
Perusahaan semakin menyadari bahwa cybersecurity yang kuat dapat menjadi fondasi pertumbuhan bisnis. Kepercayaan pelanggan, stabilitas layanan dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi nilai tambah yang mendukung ekspansi dan daya saing perusahaan.
Pada tahun 2026, cybersecurity tidak lagi berdiri sendiri sebagai fungsi terpisah. Keamanan mulai terintegrasi dengan strategi bisnis jangka panjang, perencanaan teknologi, serta pengembangan kapabilitas digital perusahaan.
Pendekatan ini membantu perusahaan di Indonesia untuk tidak hanya bertahan dari cyber attack, tetapi juga memanfaatkan keamanan sebagai enabler dalam menghadapi peluang bisnis baru.
Kesimpulan
Dari 8 tren cybersecurity di atas menunjukkan bahwa tahun 2026 akan menjadi fase penting bagi perusahaan di Indonesia dalam mengelola risiko digital. Ancaman yang semakin kompleks, sistem yang semakin terhubung, serta ketergantungan bisnis pada teknologi menuntut pendekatan keamanan yang lebih strategis dan adaptif.
Perusahaan yang mampu memahami semua tren ini sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan, menjaga keberlangsungan operasional dan membangun kepercayaan di era digital yang semakin kompetitif.
📩 Hubungi tim Global Infotech Solution disini untuk berdiskusi dan mendapatkan insight terkait strategi cybersecurity yang relevan bagi kebutuhan bisnis Anda di tahun 2026.


